Mengenang 60 Tahun Wafatnya TGH Abdul Halim: 'Sirajuna Fii Saasilaa', Sang Lentera Perjuangan dan Pengayom Umat di Gumi Sasak
Sesela, 8 Juni 2026. Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Aula Agung Yayasan Pondok Pesantren Al-Halimy, Sesela, Gunungsari pada Rabu (08/07/2026). Ribuan jemaah, santri, alumni, serta tokoh lintas generasi berkumpul bersama, menundukkan kepala dalam Peringatan Haul Enam Dekade (Ke-60) Almaghfurlahu TGH. Abdul Halim.
Momentum ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah refleksi mendalam atas warisan peradaban Islam, semangat nasionalisme, dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh sang ulama karismatik.
Hadir mewakili Bupati Lombok Barat, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, H. Ahmad Subardi, SKM, M.Kes, membacakan sambutan resmi pemerintah daerah. Di hadapan para 50-an Masyayikh, tokoh agama seperti Drs. TGH. Munajib Khalid, DR.TGH.Mukhlis Ibrahim, TGH.Abdullah Mustafa,TGH.L.Imam Sanusi, dan TGH. Ahmad Mutammam Khalid, Lc, M.A, serta segenap dzurriyah (keturunan) Almaghfurlah, Ahmad Subardi menegaskan betapa besarnya jasa TGH. Abdul Halim bagi fondasi moral dan spiritual masyarakat Lombok.
"Peringatan 60 tahun wafatnya Almaghfurlah TGH. Abdul Halim adalah momentum berharga bagi kita semua untuk merefleksikan kembali keteladanan, perjuangan, dan warisan nilai-nilai luhur yang telah beliau gariskan," ujar Ahmad Subardi saat membacakan sambutan tertulis Bupati Lombok Barat.
Tiga Peran Agung: Lentera, Pejuang, dan Pengayom
Sejarah mencatat, dedikasi TGH. Abdul Halim dimulai sejak tahun 1919 ketika beliau meletakkan batu pertama perjuangan dakwah dan pendidikan di Sesela. Hidup beliau siang dan malam diwakafkan seutuhnya hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, bertawassul kepada Rasulullah, dan menyebarkan ilmu agama Islam.
Dalam narasi haul kali ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menyoroti tiga peran agung Almaghfurlah yang melegenda dan wajib diwarisi oleh generasi penerus:
1. Sirajuna Fii Saasilaa (Sang Lentera Lombok)
Sebagaimana bait syair sakral yang kerap dilantunkan para santri, beliau adalah Sirajuna fi Sasilalentera di bumi Sasak. Ketika kegelapan kebodohan dan keterbatasan akses pendidikan menyelimuti masyarakat di masa lalu, TGH. Abdul Halim hadir membawa cahaya ilmu pengetahuan.
Pondok Pesantren Sesela didirikan sebagai mercusuar yang membimbing umat keluar dari belenggu ketidaktahuan menuju terangnya iman. Enam dekade setelah kepergiannya, cahaya lentera itu tidak pernah padam. Sinarnya justru kian terang benderang melalui kiprah ribuan alumni Ponpes Al-Halimy yang tersebar di berbagai pelosok negeri.
2. Ulama Pejuang Kemerdekaan
TGH. Abdul Halim bukanlah sosok ulama yang hanya berdiam diri di dalam masjid atau ruang kelas. Beliau adalah potret nyata ulama pejuang dengan rasa nasionalisme yang tinggi. Di masa-masa sulit pergerakan, beliau berdiri di garda terdepan mengobarkan semangat jihad membela tanah air melawan penjajahan.
Bagi beliau, mencintai tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Perjuangan kemerdekaan bangsa, khususnya di tanah Lombok, tidak terlepas dari tetesan keringat, untaian doa malam, dan pergerakan taktis yang digerakkan oleh beliau.
3. Figur Pengayom Umat
Sebagai seorang Tuan Guru, beliau adalah figur ayah, pembimbing, dan pelindung bagi seluruh lapisan masyarakat. Kehadirannya selalu membawa kedamaian, merajut ukhuwah, dan menjadi tempat bersandar bagi umat yang membutuhkan nasihat spiritual maupun sosial. Murid-murid beliau dididik untuk senantiasa teguh dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar dengan cara yang santun dan bijaksana.
"Sifat mengayom inilah yang membuat nama beliau tetap hidup dan harum di sanubari masyarakat Lombok Barat hingga detik ini," ungkap Ahmad Subardi dengan nada bergetar penuh takzim.
Kontribusi Nyata Satu Abad untuk Lombok Barat
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menyadari betul bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik, melainkan dari kokohnya fondasi moral dan mental spiritual masyarakatnya.
Keberadaan Pondok Pesantren Al-Halimy Sesela yang telah berdiri lebih dari satu abad terbukti memberikan kontribusi nyata yang tak terhingga dalam mencetak generasi Lombok Barat yang cerdas, berakhlak mulia, dan berdisiplin tinggi.
Di akhir sambutan, Pemkab Lombok Barat mengajak seluruh jemaah, alumni, dan masyarakat untuk terus mendukung para zurriyah dan pengelola pesantren agar Ponpes Al-Halimy terus maju, berkembang, dan konsisten melahirkan kader-kader bangsa.
Sebagai penutup yang menyentuh hati, sebuah bait pantun dilantunkan untuk mengenang sang ulama:
Sungguh indah kain ditenun, Kain adat dari Gumi Sasak. Kekasih kami Syeikh Abdul Halim, Menjadi lentera di tanah Lombok.
Membeli minyak di pasar pagi, Untuk membasuh luka di tangan. Ya Allah, harumkan makam beliau dan keturunan, Agar selamat di hari perhitungan.
Menggema Syair Kerinduan
Acara puncak haul semakin syahdu saat bait-bait syair berbahasa Arab yang digubah untuk menghormati Almaghfurlah TGH. Abdul Halim dilantunkan bersama secara serempak oleh ribuan jemaah:
Habibuna Syaikh Abdul Halim, Sirajuna Fii Saasilaa...(Kekasih kami, Syeikh Abdul Halim, Lentera kami di bumi Sasak...)
Lantunan doa pun membubung ke langit, memohon agar Allah SWT menganugerahkan manisnya iman, kekhusyukan ibadah, dan akhir hidup yang husnul khatimah, serta mengharumkan makam sang Tuan Guru beserta keturunannya dengan wewangian surga kelak di hari perhitungan.
Haul ke-60 ini menjadi bukti nyata bahwa meski raga TGH. Abdul Halim telah tiada selama enam puluh tahun, namun ruh perjuangan, cahaya ilmu, dan untaian doanya akan selalu hidup, abadi, dan terus menuntun langkah masyarakat Gumi Sasak menuju keberkahan. (Sahli KSDM,H Subardi b Ahmad,SKM,M.Kes)
Bunyi lengkap Syair untuk Almaghfurlahu TGH.Abdul Halim.
SYAIR SYAIKH TGH ABDUL HALIM
Syair Kekasih Kami, Asy-Syeikh Abdul Halim
Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada nabi junjungan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya tanpa terkecuali.
Ya Allah, anugerahilah kami manisnya iman, Keberkahan (kelezatan) dalam beribadah, dan akhir hidup yang baik (husnul khatimah).
Kekasih kami, Syeikh Abdul Halim, Lentera kami di bumi Sasak (Lombok).
Kekasih kami, Syeikh Abdul Halim, Lentera kami di bumi Sasak (Lombok).
Ya Allah, harumkanlah makam beliau dengan seharum-harumnya wewangian, Begitu pula makam keturunan-keturunan beliau, agar mereka semua selamat dalam hari perhitungan (hisab).
Email tidak akan di publikasi. Field yang harus diisi ditandai dengan tanda *