LOGO SEKRETARIAT DAERAH
Beranda > Berita > #Kerjanyata. Lanjutan Rapat Gabungan Komisi Dprd Dengan Eksekutif Terkait …
Berita Utama

#KERJANYATA. LANJUTAN RAPAT GABUNGAN KOMISI DPRD DENGAN EKSEKUTIF TERKAIT PERUBAHAN PERDA PERANGKAT DAERAH

Posting oleh setdalobar - 27 Agu 2025 - Dilihat 1.091 kali

Girimenang, 27082025. Lanjutan Rapat Gabungan Komisi DPRD Lombok Barat dengan eksekutif membahas Perubahan Perda Perangkat Daerah Nomor 10 Tahun 2016 dilaksanakan di Aula Fraksi DPRD Lombok Barat, dihadiri oleh 32 Anggota dan Pimpinan DPRD. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD, Ustadz Abubakar Abdullah. Pihak Eksekutif dipimpin oleh Asisten 3,H. Fauzan Husniadi, didampingi oleh Kabag Hukum, Dedy Saputra, Kabag Organisasi,H.Subardi, Sekretaris OPD terkait serta Konsultan Ahli Prof.Diswandi,SE,M.BA,Ph.D dan Saipul Mushaf,Ph.D.

Rapat dimulai jam 10.00 Wita yaitu Rapat Internal DPRD dan Rapat Gabungan dimulai jam 11.00 Wita, diawali dengan pembukaan oleh Wakil Ketua DPRD, dilanjutkan sambutan oleh Sekda diwakili oleh Asisten 3, serta Presentasi Rangkuman Naskah Akademik oleh Prof. Diswandi.

Hal-hal yang dijelskan oleh Prof. Diswandi menanggapi pertanyaan pertanyaan DPRD:

PERTANYAAN PERTAMA: ANALISIS STRATEGIS URUSAN BUDAYA DALAM DIKBUD VERSUS PENGGABUNGAN KE DISPAR

Analisis multi-perspektif yang dilakukan dengan menggabungkan teori organisasi, ekonomi kelembagaan, administrasi publik, dan teori sistem menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang menyeimbangkan efisiensi jangka pendek dan efektivitas pembangunan jangka panjang.

Hasil analisis menunjukkan bahwa urusan budaya paling tepat tetap berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dengan mekanisme koordinasi formal bersama Dinas Pariwisata agar fungsi pelestarian budaya tetap terjaga sekaligus mendukung pemanfaatan ekonomi budaya.

PERTANYAAN KEDUA: ANALISIS KOMPREHENSIF STATUS DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA (DISPORA)

Untuk urusan kepemudaan dan olahraga, arah kebijakan yang dinilai paling rasional adalah penggabungan dengan Dinas Pariwisata sehingga terbentuk Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga. Desain ini disertai pembentukan bidang khusus kepemudaan dan olahraga serta pengalokasian minimal 40% anggaran untuk menjamin keberlanjutan program dan layanan inti.

PERTANYAAN KETIGA: ANALISIS PENGGABUNGAN DINAS KETAHANAN PANGAN

Sementara itu, untuk Dinas Ketahanan Pangan, hasil kajian merekomendasikan alternatif strategis berupa penggabungan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan. Integrasi ini diyakini mampu memperkuat diversifikasi sumber protein, mendorong hilirisasi produk perikanan, mendukung program nasional Gemarikan, serta bersinergi dengan pengembangan pariwisata kuliner bahari dan pemberdayaan nelayan. Pendekatan ini dipandang lebih inovatif dan relevan bagi Lombok Barat yang memiliki potensi pesisir signifikan.

Rapat selesai jam 12.30 Wita dengan kesimpulan menerima dan menyetujui Rancangan Perda Perubahan Perda 10 Tahun 2016 untuk disetujui dalam Rapat Paripurna yang dijadwalkan Kamis, 28 Agustus 2025.

Ringkasan Naskah Akademik untuk menjawab Pertanyaan DPRD sebagai berikut:

 

KAJIAN RESTRUKTURISASI PERANGKAT DAERAH,TANGGAPAN ATAS PERTANYAAN STRATEGIS DPRD  KABUPATEN LOMBOK BARAT

Mengenai

Rancangan Perubahan PERDA  Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 

dalam Kerangka Transformasi Birokrasi  dan Efisiensi Fiskal

 

 

 

 

I.      PENDAHULUAN

Restrukturisasi perangkat daerah merupakan langkah strategis yang perlu ditempuh oleh  Pemerintah   Kabupaten Lombok  Barat  untuk menjawab  tantangan  birokrasi modern,  tuntutan efisiensi fiskal,  serta  kebutuhan  pelayanan publik yang semakin kompleks. Dinamika pembangunan daerah,  keterbatasan fiskal,  serta  fragmentasi urusan  pemerintahan menuntut  adanya desain  kelembagaan yang lebih  ramping, adaptif, dan responsif terhadap perubahan  lingkungan  strategis.

Proses   penataan    ulang   kelembagaan  ini   tidak   hanya   bersifat    administratif, melainkan juga  mencerminkan  upaya  transformasi birokrasi   menuju  tata  kelola pemerintahan yang lebih efektif dan berorientasi pada hasil. Dengan memperhatikan landasan hukum, kerangka regulasi  nasional, serta konteks sosial-ekonomi daerah, restrukturisasi OPD Lombok  Barat dipandang  sebagai instrumen penting untuk memastikan keberlanjutan pembangunan, peningkatan kualitas layanan, dan pencapaian target pembangunan daerah dalam RPJMD 20252029.

Kajian  komprehensif ini disusun untuk memberikan analisis  multi-perspektif yang meliputi aspek teoritis, regulatif, fiskal,  dan kelembagaan, serta menghasilkan rekomendasi  strategis   bagi  pengambilan keputusan.  Fokus  utama  kajian adalah menelaah tiga isu kelembagaan yang menjadi  perhatian DPRD, yaitu: urusan kebudayaan, status Dinas Pemuda  dan Olahraga, serta penggabungan Dinas Ketahanan Pangan. Melalui kajian ini diharapkan diperoleh arah kebijakan yang jelas, berbasis bukti, dan mampu menjawab kebutuhan reformasi kelembagaan di Lombok Barat.

 

II.        KERANGKA     TEORITIS    DAN      KONTEKS    STRATEGIS     RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN

A.  Landasan Epistemologis dan Paradigma Organisasi Publik

Restrukturisasi perangkat daerah Kabupaten Lombok  Barat memerlukan pendekatan yang  menggabungkan  berbagai paradigma teori organisasi publik untuk memastikan transformasi kelembagaan yang holistik  dan berkelanjutan. Weber   (1947)   dalam  teorinya   tentang   birokrasi   rasional-legal  memberikan fondasi  klasik  mengenai  hierarki otoritas, sistem  aturan tertulis,  dan pembagian kerja  fungsional yang  masih  relevan  dalam  konteks  modern.  Namun, kompleksitas  tantangan    pemerintahan  kontemporer    memerlukan  integrasi dengan  pendekatan Manajemen  Publik  Baru yang dipelopori  oleh Osborne  dan Gaebler  (1992), yang menekankan pada efisiensi, efektivitas,  dan orientasi  hasil dalam pengelolaan organisasi publik.

Dalam  konteks  Lombok  Barat,  pendekatan Analisis Institusi  Komparatif sebagaimana  dikemukakan  oleh  North  (1990)  dan  Ostrom  (2005) menjadi kerangka  metodologis yang  tepat  untuk  menganalisis  perbandingan institusi, struktur pengambilan keputusan, dan mekanisme koordinasi guna menentukan pengaturan kelembagaan yang optimal. Pendekatan ini memungkinkan evaluasi sistematis terhadap  berbagai  opsi  restrukturisasi dengan mempertimbangkan konteks lokal, kapasitas fiskal, dan dinamika  sosial-politik yang spesifik.

Transformasi  menuju  jaringan  tata  kelola   sebagaimana  dikonseptualisasikan oleh Rhodes  (2007) dan Klijn dan Koppenjan (2016) juga menjadi  relevan dalam konteks   koordinasi  lintas   sektor  yang  menjadi   salah   satu  tantangan  utama struktur organisasi eksisting. Pendekatan ini menekankan pentingnya kolaborasi, koordinasi horizontal,  dan  pembentukan jejaring  antar-organisasi untuk mengatasi fragmentasi kewenangan dan meningkatkan responsivitas terhadap isu-isu kompleks yang bersifat lintas sektor.

 

B.  Hierarki Regulatif dan Kerangka Kepatuhan

1.   Landasan Konstitusional dan Prinsip Otonomi Daerah

 

Perubahan struktur  perangkat  daerah  Kabupaten Lombok  Barat  didasarkan pada kerangka regulasi  yang komprehensif yang mencerminkan hierarki peraturan  perundang-undangan nasional. Landasan konstitusional merujuk pada Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya ayat (2) yang menyatakan bahwa "Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus  sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan," serta ayat (5) yang mengamanatkan bahwa  "Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat" (Republik Indonesia, 1945).

 

Prinsip otonomi daerah ini diimplementasikan melalui desentralisasi administratif,  politik,   dan   fiskal   yang   memberikan  kewenangan kepada daerah untuk mendesain struktur organisasi yang sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, dan kapasitas lokal (Rondinelli et al., 1984). Namun, kewenangan ini dibatasi  oleh prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas,  dan akuntabilitas sebagaimana   diatur   dalam  peraturan   perundang-undangan   yang   lebih rendah.

2.   Kerangka Implementasi Undang-Undang Pemerintahan Daerah

Implementasi prinsip konstitusional tersebut dijabarkan  melalui  Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah  (sebagaimana telah diubah  dengan  UU No. 2/2015 dan UU No. 9/2015), yang memberikan kerangka  komprehensif mengenai  penyelenggaraan  pemerintahan daerah. Pasal 211 dan 212 secara spesifik mengatur prinsip pembentukan Organisasi Perangkat  Daerah  berdasarkan asas: (a) fungsi  yang menghindari  tumpang tindih  pelaksanaan tugas  dan fungsi;  (b) beban  kerja  yang mempertimbangkan besaran  dan  kompleksitas tugas;  (c) cakupan wilayah kerja  yang  memperhatikan karakteristik geografis  dan  demografi;  serta  (d) efisiensi dan efektivitas  yang mengoptimalkan rasio  masukan-keluaran dan hasil (Republik Indonesia, 2014).

Undang-Undang ini  juga  mengatur  tipologi  perangkat  daerah  berdasarkan urusan   pemerintahan,  yang  dibedakan  menjadi   urusan  wajib  (terdiri  dari urusan   pelayanan  dasar   dan  non-pelayanan  dasar)  dan  urusan  pilihan. Klasifikasi ini memberikan kerangka normatif bagi daerah dalam menentukan prioritas  pembentukan OPD  berdasarkan fungsi  wajib versus  fungsi  pilihan (Dwiyanto, 2011).

 

3.   Kerangka Teknis PP 18/2016 dan PP 72/2019

Pada  tingkat peraturan  pemerintah,  Peraturan  Pemerintah  Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat  Daerah  (sebagaimana telah diubah dengan  PP No. 72/2019) menjadi acuan teknis operasional dalam pengelompokan perangkat daerah. PP ini mengatur sistem tipologi 

perangkat daerah (Tipe A, B, C) berdasarkan sistem penilaian yang mengombinasikan variabel kuantitatif dan kualitatif (Republik Indonesia, 2016, 2019).

 

Variabel kuantitatif meliputi: (a) jumlah penduduk dengan bobot 40%, di mana kabupaten  dengan  populasi >2 juta jiwa mendapat skor maksimal; (b) luas wilayah  dengan  bobot  20%,  di mana  kabupaten  dengan  luas  >20.000  km2 mendapat skor tertinggi; dan (c) besaran  APBD dengan  bobot 20%,  di mana kabupaten   dengan  APBD  >Rp  5 triliun  mendapat  skor maksimal. Variabel kualitatif   (bobot   20%)   mencakup   kompleksitas   urusan  pemerintahan, cakupan wilayah pelayanan, dan tingkat kesulitan koordinasi antar-sektor.

 

Berdasarkan sistem  penilaian  ini, Kabupaten Lombok  Barat  dengan jumlah penduduk sekitar 670.000 jiwa, luas wilayah 1.053,92 km2, dan APBD sebesar Rp. 2,22 triliun masuk  dalam  kategori yang memerlukan perhitungan  cermat untuk menentukan tipologi optimal bagi setiap OPD-nya.

 

4.   Standardisasi Nomenklatur dan Pembatas Kelembagaan

 

Permendagri  Nomor 90 Tahun 2019 tentang Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan  Pembangunan dan  Keuangan  Daerah berfungsi sebagai  pembatas pembentukan OPD  dengan membakukan sistem penamaan dan klasifikasi urusan (Kemendagri, 2019). Regulasi ini mencegah pembentukan OPD dengan nomenklatur  yang menggabungkan lebih dari satu urusan  pemerintahan atau yang tidak memiliki  dasar  normatif dalam  sistem klasifikasi nasional.


 

Sistem rumpun urusan  dalam  Permendagri  90/2019 membagi  urusan pemerintahan menjadi 7 rumpun (R1-R7) dengan logika pengelompokan berdasarkan  kemiripan   karakteristik,  metodologi   pendekatan,  dan  target hasil.   Sistem ini memungkinkan  penggabungan  OPD  dalam  satu  rumpun dengan  persyaratan ketat untuk mempertahankan integritas fungsional dan menghindari  konflik kepentingan  dalam pelaksanaan urusan.

 

C. Konteks Fiskal dan Imperatif Efisiensi Struktural

1.  Analisis Tekanan Fiskal  dan Tantangan Keberlanjutan

Urgensi  perubahan  perangkat  daerah  Lombok  Barat tidak dapat  dipisahkan dari  tekanan   fiskal  struktural   yang  dihadapi   sebagai  dampak   kebijakan nasional  penghematan belanja.   Instruksi  Presiden   Nomor  1  Tahun  2025 tentang  efisiensi  belanja   APBN  dan  APBD  mengakibatkan  koreksi   Dana Transfer Daerah Kabupaten  Lombok Barat sebesar Rp. 47.283.760.000 (4,3% dari total anggaran),  yang secara signifikan  berimplikasi pada  pengurangan alokasi belanja modal dan program pembangunan.

Analisis  mendalam terhadap   struktur  fiskal   Lombok  Barat  menunjukkan ketergantungan tinggi pada transfer dana dari pemerintah pusat, dengan rasio Dana  Alokasi Umum (DAU) terhadap total pendapatan mencapai sekitar

60-65%.   Kondisi    ini  menciptakan  kerentanan    fiskal   yang  tinggi terhadap kebijakan  penghematan  nasional  dan   memerlukan strategi diversifikasi sumber  pendapatan serta  efisiensi  pengeluaran yang komprehensif (Sidik, 2002).

 

2.  Analisis Belanja Pegawai dan Kepatuhan  terhadap UU HKPD

Kondisi   fiskal  eksisting  menunjukkan belanja  pegawai  (di  luar  Tunjangan Penghasilan  Guru)  mencapai  37,38%   dari  total belanja  daerah,  dengan nominal      Rp.      831.376.507.363     dari      total      belanja      daerah      Rp.2.223.995.565.213. Kondisi  ini melampaui ambang  batas  yang  ditetapkan dalam  Undang-Undang Nomor  1 Tahun  2022  tentang  Hubungan Keuangan Pusat  Daerah  (UU  HKPD), yang  mengamanatkan  rasio  maksimal belanja pegawai sebesar 30% pada tahun 2027 (Republik Indonesia, 2022). Proyeksi lintasan  penurunan  yang diperlukan menunjukkan bahwa  Lombok Barat harus mengurangi belanja pegawai sebesar 7,38 persen dalam periode 3 tahun, atau sekitar 2,46 persen per tahun. Dengan asumsi pertumbuhan belanja  daerah  sebesar 5-7%  per tahun,  hal ini memerlukan pengurangan nominal     belanja     pegawai     atau    minimal    pembatasan pertumbuhan yang sangat ketat (Mardiasmo,  2018).

 

CI. Diagnosis Kelembagaan dan Imperatif Transformasi

1.  Analisis Fragmentasi Kewenangan  dan Duplikasi Fungsi

 

Analisis  kelembagaan  komprehensif mengidentifikasi lima  permasalahan struktural  yang memerlukan intervensi  sistemik: fragmentasi dan duplikasi kewenangan   antar-organisasi   perangkat    daerah,    lemahnya  koordinasi sektoral dan lintas urusan, ketidaksiapan kelembagaan terhadap isu strategis baru,  kesenjangan kapasitas dan  beban kerja OPD,  serta  ketidakselarasan struktural sebagai tantangan adaptasi kelembagaan (Prasojo,  2009).

Fragmentasi kewenangan terjadi  ketika  satu  urusan  pemerintahan dikelola oleh lebih  dari satu  OPD  dengan  pembagian peran  yang tidak selalu  jelas, menciptakan banyak  pintu  masuk   yang  membingungkan masyarakat dan mengurangi   efektivitas koordinasi internal.  Hal  ini  sejalan dengan konsep tumpang tindih fungsi dalam teori administrasi publik yang dikemukakan oleh Peters (2001).

 

2.   Identifikasi Kegagalan Koordinasi dan Biaya Transaksi

 

Lemahnya koordinasi sektoral  menciptakan kegagalan koordinasi yang meningkatkan biaya transaksi dalam implementasi kebijakan  publik. Analisis berdasarkan teori  ekonomi  kelembagaan  menunjukkan bahwa  koordinasi yang tidak efektif antara OPD dapat meningkatkan biaya transaksi hingga 15-

25%  dari  total  biaya  program,  yang  berasal  dari  duplikasi kegiatan,  biaya komunikasi  tambahan, dan  keterlambatan dalam  pengambilan keputusan (Williamson, 1985).

 

III.       ANALISIS KOMPREHENSIF DAN MULTI-PERSPEKTIF PERTANYAAN DPRD

A.  PERTANYAAN  PERTAMA:   ANALISIS  STRATEGIS  URUSAN  BUDAYA   DALAM

DIKBUD VERSUS PENGGABUNGAN KE DISPAR

1.   Kerangka Teoritis dan Paradigma Pengelolaan Budaya

a.   Dikotomi    Paradigma:   Konservasi-Pelestarian    versus    Komersialisasi-Ekonomi Kreatif

 

Pengelolaan urusan  kebudayaan menghadapi ketegangan  fundamental antara  paradigma   konservasi-pelestarian dengan  paradigma komersialisasi-ekonomi  kreatif   yang   memerlukan analisis  mendalam untuk menentukan pengaturan kelembagaan yang optimal. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan paradigma Pierre Bourdieu tentang reproduksi budaya dan modal budaya, di mana sistem pendidikan dan kelembagaan budaya berfungsi sebagai alat untuk mentransmisikan, melestarikan,  dan   mengembangkan  modal   budaya   dari   generasi   ke generasi (Bourdieu, 1986).

 

Paradigma ini menekankan pada  keaslian budaya,  pelestarian warisan, nilai edukatif,  dan pembentukan karakter yang memerlukan pendekatan sistematis, berorientasi  jangka panjang,  dan berbasis masyarakat. Program-program dalam kerangka ini meliputi dokumentasi warisan budaya,    pengembangan  apresiasi   estetika    masyarakat,   pembinaan sanggar  seni tradisional, dan penguatan  pembentukan identitas  generasi muda melalui penyelaman budaya.

 

Sebaliknya, Dinas  Pariwisata menerapkan paradigma ekonomi  budaya yang memandang aset budaya sebagai sumber daya ekonomi dan modal simbolik untuk pengembangan industri  pariwisata  dan  ekonomi  kreatif. Paradigma ini menekankan pada pendekatan berorientasi  pasar, penciptaan pendapatan, pencitraan destinasi, dan komodifikasi budaya yang memerlukan pendekatan kewirausahaan, berorientasi  keuntungan, dan responsif pasar (Throsby, 2001).

 

b.   Analisis Rantai Nilai dan Pemetaan Pemangku Kepentingan

 

Rantai   nilai   budaya   dalam   konteks   pengelolaan  budaya   melibatkan berbagai    tahap:    (a)   penciptaan   dan   produksi    artistik   budaya;    (b) pelestarian  dan   dokumentasi  budaya;   (c)   pendidikan  dan   transmisi budaya; (d) promosi  dan pemasaran budaya;  serta (e) komersialisasi dan pemanfaatan ekonomi  budaya.  Setiap  tahap  memerlukan kompetensi, pendekatan, dan pengaturan kelembagaan yang berbeda.

 

Dikbud  memiliki  keunggulan komparatif  dalam  tahap  1-3  (penciptaan, pelestarian, pendidikan)  dengan fokus pada pelestarian keaslian, keterlibatan  masyarakat, dan hasil  edukatif.  Dispar  memiliki  keunggulan komparatif dalam tahap 4-5 (promosi,  komersialisasi) dengan fokus pada penetrasi  pasar, penciptaan pendapatan, dan dampak ekonomi.

 

2.   Penilaian  Risiko dan Analisis Konflik Kepentingan

 

Analisis risiko  menunjukkan potensi  konflik  kepentingan  yang serius  dalam penggabungan  urusan  budaya  ke  Dinas   Pariwisata. Konflik  utama  terjadi ketika permintaan pasar untuk daya tarik pariwisata berbenturan dengan persyaratan  keaslian  budaya.   Tekanan   untuk  menghasilkan  pendapatan dapat  mendorong  komersialisasi  yang  berlebihan, mengakibatkan komodifikasi budaya,  hilangnya  keaslian, dan  degradasi nilai-nilai budaya (MacCannell, 1976).

 

Studi  kasus internasional menunjukkan bahwa  penggabungan budaya  dan pariwisata  tanpa  pengamanan kelembagaan yang tepat  dapat mengakibatkan: (a) komersialisasi berlebihan  situs  budaya yang mengurangi nilai sakral  dan kepemilikan masyarakat; (b) standardisasi budaya untuk memenuhi ekspektasi wisatawan yang menghilangkan keunikan lokal; (c) efek gentrifikasi yang mengeluarkan komunitas tradisional dari ruang budaya mereka;  serta  (d) orientasi  keuntungan   jangka  pendek  yang  mengabaikan keberlanjutan budaya jangka panjang (Smith, 2003).

 

3.   Analisis Empiris  dan Indikator Kinerja

a.   Analisis Capaian Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK)


 

Evaluasi empiris terhadap kinerja sektor kebudayaan Lombok Barat menunjukkan capaian  Indeks   Pembangunan  Kebudayaan  yang masih memerlukan peningkatan signifikan. Persentase benda, bangunan, struktur, situs dan kawasan Cagar Budaya yang telah ditetapkan terhadap total pendaftaran  mencapai 3,60% (2024), sementara persentase warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan  terhadap total pencatatan hanya

5,00% (2024).

 

Analisis perbandingan dengan  kabupaten  yang sebanding menunjukkan bahwa capaian Lombok  Barat masih di bawah rata-rata nasional (8-12% untuk cagar  budaya,  15-20%  untuk warisan  budaya  tak benda).  Analisis kesenjangan   menunjukkan  bahwa   kinerja   yang   kurang   optimal   ini terutama  disebabkan oleh: (a) alokasi sumber  daya yang tidak memadai untuk  dokumentasi  dan  penetapan;  (b)  keahlian   teknis  yang  terbatas dalam  pengelolaan warisan;  (c) koordinasi yang lemah antara pemangku kepentingan; serta (d) keterlibatan masyarakat yang tidak memadai dalam inisiatif pelestarian budaya (Yudhistira, 2017).

 

4.   Rekomendasi dan Desain  Kelembagaan

 

Rekomendasi strategis  yang dihasilkan dari analisis komprehensif, baik dari perspektif teoritis, empiris, maupun strategis, menekankan pentingnya mempertahankan urusan  budaya  di bawah  naungan  Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan. Namun,  agar  potensi  sinergi  dengan  sektor  pariwisata  tetap terjaga, mekanisme koordinasi yang lebih kuat dengan Dinas Pariwisata harus diimplementasikan.  Pendekatan  ini  memungkinkan  setiap   institusi   untuk tetap fokus pada kompetensi intinya tanpa menimbulkan konflik kepentingan. Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan dapat berfokus  pada pelestarian budaya, pendidikan,  serta  peningkatan  keterlibatan   masyarakat, sementara Dinas Pariwisata dapat  lebih  menitikberatkan pada  promosi,  komersialisasi,  dan pemanfaatan budaya dalam konteks ekonomi.

 

Untuk  memperkuat  koordinasi, dapat  dibentuk  Dewan  atau  Komite Koordinasi BudayaPariwisata yang diketuai oleh Sekretaris Daerah. Dewan/Komite  ini dapat melibatkan perwakilan  dari Dikbud,  Dispar,  dan komunitas budaya,  dengan  mandat  untuk merancang perencanaan terpadu serta memastikan implementasi program yang memiliki  dimensi  budaya dan pariwisata  berjalan secara selaras.

 

B.  PERTANYAAN KEDUA: ANALISIS  KOMPREHENSIF  STATUS DINAS  PEMUDA DAN OLAHRAGA (DISPORA)

1.   Landasan Teoritis dan Analisis Multi-Perspektif

a.   Perspektif  Manajemen Publik Baru dan Efisiensi Organisasi

 

Keberadaan  Dinas  Pemuda   dan  Olahraga   sebagai OPD  mandiri  dapat dianalisis melalui  lensa  Manajemen  Publik  Baru yang menekankan pada efisiensi, efektivitas,  dan  pengukuran   kinerja  dalam  desain  organisasi.

Dari perspektif  analisis efisiensi, Dispora  menunjukkan karakteristik organisasi skala  kecil dengan rentang keluaran  yang relatif terbatas,  yang menciptakan potensi  disekonomis skala   dalam  overhead  administratif (Hood, 1991).

Analisis efektivitas   biaya  menunjukkan  bahwa  Dispora   memiliki   biaya administratif per penerima manfaat yang tinggi dibandingkan dengan OPD lain   yang   memiliki   operasi    skala    lebih   besar.    Biaya   tetap   untuk pemeliharaan organisasi (kepala  dinas,  sekretaris, struktur administrasi dasar) relatif sama  dengan OPD yang lebih besar,  namun dengan volume penyampaian layanan yang lebih kecil, mengakibatkan biaya per unit yang lebih tinggi.

 

b.   Analisis Keuangan  dan Optimisasi Sumber Daya

 

Analisis  keuangan   terperinci   terhadap  Dispora   menunjukkan  struktur biaya  yang didominasi oleh  pengeluaran personel  dan  overhead operasional  dengan   pengeluaran  program   yang  relatif  kecil.   Rincian struktur biaya menunjukkan:

     Biaya Personel (Total: Rp. 1.344.029.960 per tahun)

o  Gaji dan Tunjangan Eselon: Rp. 980.029.960

o  Tunjangan Pejabat Pimpinan  (TPP): Rp. 364.000.000

     Biaya Operasional (Total: Rp. 850.671.000 per tahun)

o  Belanja Rutin Kantor: Rp. 400.000.000

o  Utilitas dan Pemeliharaan: Rp. 150.000.000

o  Transportasi dan Komunikasi: Rp. 300.671.000

Analisis biaya-manfaat menunjukkan bahwa biaya administratif (personel

+ operasional) mencapai 46-52%  dari  total  anggaran,  yang  merupakan rasio overhead  tinggi untuk organisasi penyampaian layanan.  Tolok ukur internasional untuk organisasi serupa menunjukkan rasio optimal 25-35% untuk biaya administratif (Osborne & Plastrik, 2000).

 

2.   Rekomendasi Strategis

 

Rekomendasi strategis yang muncul  dari analisis ini didasarkan pada kondisi fiskal,  tuntutan efisiensi, dan peluang sinergi lintas sektor. Pilihan yang dipandang  paling   rasional    adalah   menggabungkan  Dinas   Pemuda   dan Olahraga   dengan  Dinas  Pariwisata  sehingga   terbentuk  struktur  baru  yang mampu   melindungi    fungsi    inti   kepemudaan   dan    olahraga,    sekaligus membuka  ruang  kolaborasi dengan  sektor  pariwisata  dan  ekonomi  kreatif. Dengan desain integrasi yang komprehensif, penggabungan ini diyakini dapat memberikan manfaat  ganda,  yakni efisiensi penggunaan sumber  daya serta peningkatan mutu  program  melalui  kombinasi keunggulan masing-masing sektor.


 

C.  PERTANYAAN KETIGA:    ANALISIS  PENGGABUNGAN DINAS  KETAHANAN PANGAN

1.   Analisis Teori Sistem dan Integrasi Rantai Nilai

a.   Pendekatan Sistem Pangan dan Rantai Nilai Terintegrasi

 

Analisis  penggabungan  Dinas   Ketahanan  Pangan   memerlukan pendekatan teori  sistem  yang  memandang ketahanan   pangan  sebagai sistem  terintegrasi yang mencakup komponen  produksi, pengolahan, distribusi, akses,  dan  pemanfaatan.  Fragmentasi  kelembagaan  dalam sistem   pangan   dapat   mengakibatkan masalah  optimisasi,  kegagalan koordinasi, dan  hasil  yang  tidak  optimal  dalam  pencapaian ketahanan pangan (Sen, 1981).

 

Pengaturan  kelembagaan saat ini dengan pemisahan antara Dinas Pertanian  (fokus produksi)  dan Dinas  Ketahanan Pangan  (fokus distribusi dan  konsumsi)  menciptakan batas-batas  artifisial   dalam   proses   yang secara alami terintegrasi. Analisis rantai nilai pangan menunjukkan bahwa ketahanan   pangan   yang  efektif  memerlukan  integrasi   tanpa  batas   di semua  tahap.

 

b.   Ekonomi Biaya Transaksi dan Mekanisme Koordinasi

 

Berdasarkan teori biaya  transaksi yang  dikembangkan oleh  Williamson (1985),  pengaturan  kelembagaan harus  meminimalkan  biaya  transaksi sambil  memaksimalkan efektivitas  koordinasi. Pemisahan saat ini antara Dinas Pertanian dan Dikpangan menciptakan biaya transaksi tinggi dalam bentuk:

 

Biaya Koordinasi Antar-Organisasi:

Berbagai rapat, komunikasi, dan mekanisme koordinasi

     Proses  perencanaan  ganda   dan   penetapan   target  yang   tidak

konsisten

     Asimetri informasi  dan pengambilan keputusan yang tertunda

     Sistem pemantauan dan evaluasi yang tumpang tindih

 

Analisis biaya transaksi menunjukkan bahwa integrasi  dapat mengurangi biaya  koordinasi sebesar 20-30%  sambil  meningkatkan kecepatan dan konsistensi pengambilan keputusan.

 

2.   Opsi Integrasi

a.   Opsi A: Integrasi dengan Dinas Kelautan  dan Perikanan

1)   Potensi

-     Potensi Dukungan terhadap Diversifikasi Sumber Pangan:

 

Dinas  Kelautan  dan Perikanan  memiliki  kontribusi  penting dalam mendukung  ketahanan  pangan dengan menyediakan sumber protein  hewani  dari laut  dan  perairan  darat.  Integrasi  Dikpangan


 

dengan  Dislutkan dapat  memperkuat  program  diversifikasi konsumsi pangan  berbasis ikan, yang sesuai dengan agenda nasional Gerakan  Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Hal ini penting untuk mengatasi permasalahan gizi kurang dan stunting di Lombok  Barat, mengingat ikan merupakan sumber  protein berkualitas tinggi yang relatif terjangkau.

 

-     Penguatan  Hilirisasi Produk Perikanan:

 

Dengan  integrasi kelembagaan, program ketahanan  pangan dapat mengembangkan hilirisasi  produk  perikanan   untuk  memperluas akses masyarakat terhadap  pangan  olahan  berbasis ikan, memperpanjang masa  simpan, dan menstabilkan ketersediaan di pasar   lokal.   Pendekatan  ini  juga  memberi  peluang   penguatan UMKM pengolahan hasil  laut yang terhubung dengan jaringan distribusi pangan daerah.

 

-     Peluang Sinergi Geografis  dan Sektor Wisata Bahari:

 

Sebagai daerah  dengan  garis  pantai  yang cukup  panjang, penguatan   peran  Dislutkan  dalam   konteks   ketahanan   pangan dapat   menghubungkan  program   pangan   sehat   berbasis  ikan dengan  pengembangan destinasi wisata  bahari.  Sinergi  ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat  brand pariwisata  kuliner Lombok Barat.

 

2)   Tantangan dan Risiko:

 

Namun   demikian,   integrasi  ini  menghadapi sejumlah  keterbatasan mendasar. Dislutkan hanya menangani sub-urusan perikanan, sedangkan cakupan ketahanan  pangan lebih luas. Target sasaran juga berbeda,  di mana  Dislutkan fokus  pada  nelayan  dan  pembudidaya, sementara  Dikpangan  berorientasi   pada   rumah  tangga  konsumen secara umum. Perbedaan ini dapat menciptakan konflik prioritas program   dan   alokasi  sumber   daya,   serta   berisiko    menurunkan efektivitas fungsi ketahanan  pangan lintas komoditas.

 

b.   Opsi B: Integrasi dengan Dinas Pertanian  - Justifikasi Strategis

1)   Justifikasi Teoritis: Integrasi  dengan Dinas  Pertanian  didasarkan pada logika   integrasi   ke  depan   dalam   rantai   nilai   pertanian,   di  mana organisasi yang berfokus  pada  produksi  memperluas kontrol ke hilir untuk memastikan akses pasar dan penangkapan nilai. Pendekatan ini konsisten  dengan  teori  integrasi  vertikal  yang  menyarankan keuntungan   efisiensi  melalui   internalisasi  transaksi  pasar   (Coase,

1937).

2)   Keunggulan Operasional yang Signifikan:


 

       Titik    kontak     tunggal     untuk    petani    dan     kelompok    tani, menghilangkan kebingungan masyarakat

       Perencanaan  terintegrasi   dari   target  produksi   hingga   strategi distribusi yang sinergis

       Sistem data komprehensif dari tingkat pertanian hingga konsumsi rumah tangga

     Alokasi  anggaran  terpadu  untuk seluruh  rantai nilai  pangan  yang

efisien

     Eliminasi duplikasi program  untuk kelompok  sasaran yang sama

(petani dan kelompok tani)

 

3)   Kompatibilitas Rumpun  Urusan:  Berdasarkan Permendagri  90/2019, urusan  pertanian  dan  ketahanan  pangan  sama-sama berada  dalam Rumpun R6, sehingga  penggabungannya sah secara regulatif dengan tetap menjaga integritas fungsional.

3.   Rekomendasi Strategis

 

Struktur organisasi hasil penggabungan "Dinas Ketahanan Pangan  dan Kelautan/Perikanan" layak diprioritaskan sebagai alternatif strategis. Integrasi ini menekankan kesinambungan pengelolaan pangan darat dan laut sekaligus memperkuat  diversifikasi sumber protein, mendukung  program nasional Gemarikan, serta membuka  peluang  hilirisasi dan distribusi hasil  perikanan. Dengan  demikian,  penggabungan ini tidak hanya  memperkokoh ketahanan pangan daerah, tetapi juga menjadi strategi inovatif bagi Lombok  Barat untuk memaksimalkan potensi sumber daya laut yang dimilikinya.

 

Dari sisi  finansial, total penghematan Rp. 1.734.272.931 dapat dialokasikan untuk  integrasi   program,   pengembangan  teknologi,   dan  inisiatif pembangunan kapasitas yang mendukung  pendekatan sistem  pangan terintegrasi.

 

Selain  itu, integrasi  Dikpangan dengan Dinas  Kelautan  dan Perikanan memberikan dukungan  strategis  pada diversifikasi sumber protein dan penguatan  gizi masyarakat (FAO,  2021).  Melalui  Dislutkan, program ketahanan   pangan  dapat  memanfaatkan potensi  hasil  laut  dan  perikanan budidaya untuk memperkuat  ketersediaan pangan hewani (Kementerian Kelautan  dan Perikanan, 2020). Integrasi ini juga membuka  peluang  hilirisasi produk perikanan,  memperpanjang rantai pasok,  serta mendukung  Gerakan Memasyarakatkan  Makan   Ikan   (Gemarikan)  (KKP,   2019).   Dengan   basis geografis  Lombok  Barat  yang  memiliki  wilayah  pesisir  signifikan, penggabungan ini dapat  menyinergikan program ketahanan  pangan  dengan pemberdayaan nelayan,  pengembangan UMKM olahan ikan, serta pariwisata kuliner bahari (Smith, 2003). Lebih jauh, integrasi ini memungkinkan penyelarasan program gizi masyarakat dengan strategi pengurangan stunting, memanfaatkan ikan  sebagai sumber  protein  murah  dan  mudah  diperoleh (Kemenkes RI, 2021). Hal ini sejalan dengan  kebijakan  nasional peningkatan konsumsi ikan per kapita (BPS, 2023). Penggabungan juga dapat memperkuat


 

rantai nilai perikanan  dari hulu (budidaya  dan tangkap) hingga hilir (olah dan distribusi), menciptakan efisiensi  logistik  dan  mengurangi   kerugian  pasca panen  (Williamson,  1985).  Analisis lebih  mendalam  menunjukkan bahwa integrasi ini juga dapat memperkuat  sistem cadangan pangan daerah melalui cold  storage  terintegrasi,   memperluas jangkauan   distribusi ikan  segar  ke wilayah pedalaman, serta mengurangi  disparitas akses pangan antarwilayah (Barrett, 2010). Dukungan regulatif pun tersedia, mengingat sub-urusan perikanan  masuk  dalam rumpun pangan (R6) menurut Permendagri  90/2019, sehingga  legitimasi penggabungan dapat dipertahankan (Kemendagri, 2019). Tantangan yang perlu diantisipasi adalah  memastikan agar fokus pada komoditas laut tidak mengurangi  perhatian pada pangan berbasis pertanian, sehingga  diperlukan  mekanisme koordinasi lintas  bidang  agar fungsi ketahanan  pangan  lintas komoditas tetap seimbang (Ostrom,  2005). Contoh praktik  di daerah  lain,  seperti  Maluku  dan  Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa   integrasi   fungsi   pangan   dengan   perikanan   dapat   meningkatkan efektivitas  program  gizi berbasis ikan  tanpa  melemahkan fungsi  pertanian, asalkan ada desain  kelembagaan yang jelas dan indikator kinerja lintas komoditas yang terukur (North, 1990). Rekomendasi analisis ini menegaskan bahwa opsi penggabungan dengan Dislutkan layak dipertimbangkan sebagai strategi  jangka   panjang   untuk   menguatkan  ketahanan   pangan   berbasis sumber daya laut yang berlimpah  di Lombok Barat.

 

IV.      SINTESIS

 

Analisis multi-perspektif yang dilakukan dengan  menggabungkan teori organisasi, ekonomi kelembagaan, administrasi publik, dan teori sistem menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang menyeimbangkan efisiensi jangka pendek dan efektivitas pembangunan jangka panjang.

 

Hasil   analisis  menunjukkan bahwa  urusan   budaya  paling  tepat  tetap  berada  di bawah  Dinas  Pendidikan dan  Kebudayaan, dengan  mekanisme koordinasi formal bersama Dinas  Pariwisata agar  fungsi  pelestarian budaya  tetap  terjaga  sekaligus mendukung  pemanfaatan ekonomi budaya.

 

Untuk urusan  kepemudaan dan olahraga,  arah kebijakan  yang dinilai paling rasional adalah    penggabungan   dengan    Dinas    Pariwisata   sehingga    terbentuk   Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga. Desain ini disertai pembentukan bidang   khusus  kepemudaan  dan   olahraga   serta   pengalokasian  minimal   40% anggaran untuk menjamin  keberlanjutan program dan layanan inti.

 

Sementara itu,  untuk  Dinas  Ketahanan Pangan,   hasil  kajian  merekomendasikan alternatif  strategis  berupa  penggabungan dengan  Dinas  Kelautan  dan  Perikanan. Integrasi  ini diyakini  mampu  memperkuat  diversifikasi sumber  protein, mendorong hilirisasi   produk   perikanan,    mendukung    program   nasional   Gemarikan,   serta bersinergi   dengan   pengembangan  pariwisata   kuliner  bahari  dan  pemberdayaan


 

nelayan. Pendekatan ini dipandang lebih inovatif dan relevan bagi Lombok Barat yang memiliki potensi pesisir  signifikan.

 

Dari sisi fiskal, estimasi menunjukkan adanya potensi efisiensi sekitar Rp. 3,93 miliar per tahun.  Penghematan ini dapat  dialihkan  untuk memperkuat  program-program prioritas  seperti  pengentasan stunting  melalui  peningkatan konsumsi ikan, pengembangan  UMKM pengolahan hasil  laut,  serta  peningkatan literasi  budaya. Dengan demikian,  selain  memberikan manfaat fiskal,  restrukturisasi ini juga berkontribusi  pada  peningkatan ketahanan  pangan,  penguatan  daya  saing pariwisata, dan konsolidasi kelembagaan.

 

 

 

 

V.      KESIMPULAN

 

Restrukturisasi perangkat daerah Kabupaten Lombok Barat merupakan agenda strategis yang digerakkan  oleh tekanan fiskal,  kebutuhan  efisiensi, dan tuntutan koordinasi lintas sektor.   Analisis  menunjukkan bahwa  rekomendasi  perubahan   kelembagaan  dapat menghasilkan efisiensi fiskal  sekaligus memperkuat  efektivitas  pembangunan, khususnya  melalui   opsi  penggabungan  Ketahanan  Pangan   dengan   Kelautan   dan Perikanan  sebagai strategi inovatif berbasis potensi lokal.

 

Keberhasilan   restrukturisasi  sangat   ditentukan   oleh   implementasi  bertahap   yang cermat,  pemantauan berkelanjutan, dan manajemen adaptif untuk memastikan transformasi organisasi mampu  meningkatkan kualitas pelayanan publik  dan mendukung  pencapaian visi pembangunan Lombok Barat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

FAO.  (2021).  The State  of Food  Security  and  Nutrition  in the World 2021.  Food  and

Agriculture Organization of the United Nations.

Kementerian  Kelautan  dan Perikanan. (2020). Laporan  Tahunan  Kementerian  Kelautan dan Perikanan  2020. Jakarta: KKP.

KKP.  (2019).  Gerakan  Memasyarakatkan Makan  Ikan  (Gemarikan): Laporan  Program Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan.

Kementerian  Kesehatan RI.  (2021).  Laporan  Nasional Stunting  dan  Status  Gizi  Balita

Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian  dan Pengembangan Kesehatan.

Badan  Pusat  Statistik  (BPS).  (2023). Konsumsi Ikan Per Kapita Indonesia 2023. Jakarta: BPS Pusat.

Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and

Research for the Sociology of Education (pp. 241-258). Greenwood.

Coase,   R.    H.    (1937).    The   nature    of   the   firm.    Economica,   4(16),   386-405.

https://doi.org/10.1111/j.1468-0335.1937.tb00002.x


 

Dwiyanto,  A. (2011).  Mengembalikan kepercayaan  publik  melalui  reformasi  birokrasi.

Gramedia Pustaka Utama.

Hood, C. (1991). A public  management for all seasons? Public  Administration, 69(1), 3-

19. https://doi.org/10.1111/j.1467-9299.1991.tb00779.x

Kemendagri. (2019).  Peraturan  Menteri Dalam  Negeri  Nomor  90 Tahun  2019  tentang Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan  Daerah.  Kementerian  Dalam Negeri Republik Indonesia.

Klijn, E. H., & Koppenjan, J. (2016). Governance networks in the public sector. Routledge. MacCannell, D. (1976). The tourist: A new theory of the leisure class. Schocken Books. Mardiasmo.  (2018). Perpajakan: Edisi terbaru 2018. Andi Offset.

North,  D.  C. (1990).  Institutions,  institutional   change   and  economic  performance.

Cambridge University Press.

Osborne, D.,  & Gaebler,  T. (1992).  Reinventing  government:  How  the entrepreneurial spirit is transforming the public sector.  Addison-Wesley.

Osborne, D., & Plastrik, P. (2000). The reinventor's fieldbook: Tools for transforming your government. Jossey-Bass.

Ostrom, E. (2005). Understanding institutional  diversity. Princeton  University Press.

Peters, B. G. (2001). The politics of bureaucracy (5th ed.). Routledge.

Prasojo, E. (2009). Reformasi kedua: Melanjutkan estafet reformasi. Salemba Humanika.

Republik  Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar  Negara  Republik  Indonesia Tahun

1945.

Republik    Indonesia.   (2014).    Undang-Undang   Nomor    23    Tahun    2014    tentang

Pemerintahan Daerah.

Republik   Indonesia.  (2016).  Peraturan   Pemerintah   Nomor  18  Tahun  2016  tentang

Perangkat Daerah.

Republik   Indonesia.  (2019).  Peraturan   Pemerintah   Nomor  72  Tahun  2019  tentang

Perubahan atas Peraturan  Pemerintah  Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat

Daerah.

Republik  Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor  1 Tahun  2022 tentang Hubungan

Keuangan  Pusat Daerah.

Rhodes, R. A. W. (2007). Understanding governance: Ten years on. Organization Studies,

28(8), 1243-1264.  https://doi.org/10.1177/0170840607076586

Rondinelli, D. A., Nellis, J. R., & Cheema, G. S.  (1984). Decentralization in developing countries: A review of recent experience. World Bank.

Sen,  A. (1981). Poverty and famines:  An essay  on entitlement  and deprivation.  Oxford

University Press.

Sidik,  M. (2002). Perimbangan keuangan  pusat dan daerah sebagai pelaksanaan desentralisasi fiskal.  Jurnal Ekonomi Rakyat, 1(4), 1-10.

Smith, M. K. (2003). Issues in cultural tourism studies. Routledge.

Throsby, D. (2001). Economics and culture. Cambridge University Press.

Weber, M. (1947). The theory of social and economic organization  (T. Parsons, Trans.).

Oxford University Press.

Williamson, O. E. (1985). The economic institutions of capitalism. Free Press.

Yudhistira, A. (2017). Pelestarian warisan  budaya  dalam  pembangunan berkelanjutan.

Jurnal Perencanaan Pembangunan, 1(2), 45-62.

 

 


Silahkan beri komentar

Email tidak akan di publikasi. Field yang harus diisi ditandai dengan tanda *