DOA KEBANGSAAN DALAM RANGKA HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA OLEH KANWIL KEMENAG NTB.
I. WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan Doa Kebangsaan dalam rangka HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Rabu, 12 Agustus 2026
Waktu: Pukul 19.00 WITA sampai selesai
Tempat: Lapangan Umum Sangkareang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat
Tema: Peluk Indonesia, Beda Iman, Saling Menguatkan untuk Indonesia Raya, dari NTB untuk Indonesia.
II. KEHADIRAN
Kegiatan dihadiri oleh unsur pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan, santri, serta umat lintas agama, antara lain:
Gus Miftah, Utusan Khusus Presiden RI Bidang Kerukunan Beragama;
Wakil Ketua DPR RI sekaligus Anggota DPR RI Dapil NTB, Hj. Sari Yuliati, ST., MT.;
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat;
Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram;
Forkopimda Provinsi NTB;
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-NTB;
Organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan se-NTB;
Para santri pondok pesantren, yang memenuhi Lapangan Sangkareang;
Umat lintas agama dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat;
Tokoh agama, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Wakil Bupati Lombok Barat berhalangan hadir karena sedang mendampingi Bapak Gubernur NTB dan Menteri Perhubungan, sehingga kehadiran Pemerintah Kabupaten Lombok Barat pada kegiatan tersebut diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM.
III. JALANNYA KEGIATAN
Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat, tertib, dan penuh semangat kebangsaan. Doa Kebangsaan menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang masyarakat.
Antusiasme masyarakat terlihat dari kehadiran para santri dan umat lintas agama yang memenuhi Lapangan Sangkareang. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa semangat kebangsaan dan persatuan dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang keyakinan.
IV. POKOK SAMBUTAN/PESAN KEGIATAN
Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan adalah bahwa Lombok dan Nusa Tenggara Barat dapat menjadi laboratorium toleransi beragama di Indonesia.
Keberagaman masyarakat NTB dipandang bukan sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai kekuatan sosial yang dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam konteks tersebut, tradisi Perang Topat disebut sebagai salah satu contoh praktik baik toleransi beragama berbasis budaya. Tradisi tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda dapat hidup berdampingan, membangun kebersamaan, dan merawat tradisi secara damai.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan tema kegiatan, yaitu Peluk Indonesia, yang mengandung makna bahwa Indonesia harus dirawat dengan saling menghormati, saling menguatkan, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun Indonesia Raya.
V. MAKNA STRATEGIS BAGI NTB
Kegiatan Doa Kebangsaan memiliki makna strategis dalam memperkuat harmoni sosial di Nusa Tenggara Barat. NTB memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi keagamaan, budaya, gotong royong, serta kehidupan masyarakat yang relatif terbuka terhadap keberagaman.
Praktik toleransi yang tumbuh dari budaya masyarakat, seperti Perang Topat, dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari narasi positif NTB dalam membangun kerukunan umat beragama.
Dengan demikian, toleransi tidak hanya dipahami sebagai konsep formal, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui saling menghormati, saling membantu, menjaga tempat ibadah, menghargai perayaan keagamaan, serta membangun ruang interaksi bersama.
VI. KESIMPULAN
Kegiatan Doa Kebangsaan dalam rangka HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, berlangsung dengan baik, aman, tertib, dan penuh khidmat.
Kehadiran unsur pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan, santri, serta umat lintas agama menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat NTB.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa NTB memiliki potensi besar sebagai contoh kehidupan toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia, dengan kekayaan budaya lokal seperti Perang Topat sebagai salah satu praktik baik yang perlu terus dirawat dan diwariskan.
Semangat Beda Iman, Saling Menguatkan untuk Indonesia Raya diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan, tetapi menjadi nilai yang terus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Demikian laporan ini disampaikan sebagai bahan informasi dan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan.
Mataram, 12 Agustus 2026
Yang Mewakili Ibu Wakil Bupati Lombok Barat
Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM
POKOK PIDATO GUS MIFTAH: (Boleh dikutip sebagai laporan Pesantren , Sekolah dan Institusi di bawah Kanwil Kemenang NTB)
RESUME PIDATO GUS MIFTAH
DOA KEBANGSAAN DALAM RANGKA HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI
Lapangan Umum Sangkareang, Mataram 12 Agustus 2026
Gus Miftah mengawali sambutannya dengan menyampaikan rasa syukur dan kecintaannya kepada masyarakat NTB. Ia menegaskan kehadirannya dalam acara tersebut bukan sekadar sebagai pendakwah, tetapi sebagai sahabat. Menurutnya, teman adalah mereka yang datang ketika kita senang, sedangkan sahabat adalah mereka yang tetap bertahan ketika banyak orang meninggalkan kita. Karena itu, persahabatan dan kebersamaan harus terus dirawat dalam kehidupan berbangsa.
Dalam konteks kehidupan beragama, Gus Miftah menekankan pentingnya meyakini agama masing-masing tanpa merendahkan agama dan keyakinan orang lain. Sebagai seorang Muslim, ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang diyakininya benar, tetapi keyakinan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penghinaan, persekusi, ataupun mengganggu umat agama lain dalam menjalankan ibadahnya. Dalam bingkai Pancasila, setiap agama yang diakui negara memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadah dengan aman dan damai.
Ia mengingatkan bahwa kedewasaan beragama ditunjukkan dengan kemampuan menghormati keyakinan orang lain. Gus Miftah mengutip pesan Al-Quran agar umat Islam tidak menghina sesembahan agama lain, karena tindakan tersebut dapat memicu mereka menghina Allah. Prinsip sederhananya adalah: jika kita ingin tempat ibadah kita dihormati, maka jangan merusak atau mengganggu tempat ibadah orang lain. Ia juga menekankan bahwa menjaga kerukunan bukan berarti mencampuradukkan akidah, melainkan memberikan ruang kepada setiap pemeluk agama untuk menjalankan keyakinannya tanpa gangguan.
Gus Miftah kemudian menggambarkan Indonesia sebagai sebuah rumah besar yang memiliki kamar-kamar berbeda: kamar Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Setiap umat hendaknya kembali ke kamar agamanya masing-masing dengan baik. Persoalan muncul ketika seseorang memasuki, mengganggu, atau mengambil alih kamar orang lain. Karena itu, yang perlu dibangun bukanlah upaya memasuki ruang keyakinan orang lain, melainkan ruang tamu bersama, yaitu ruang kebangsaan tempat seluruh warga Indonesia dapat bertemu, berinteraksi, dan bekerja sama.
Menurut Gus Miftah, Kota Mataram dan NTB memiliki peluang menjadi contoh toleransi bagi Indonesia. Keberagaman yang ada harus dikelola menjadi kekuatan persatuan. Kehadiran umat lintas agama dalam Doa Kebangsaan menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi seseorang untuk mencintai tanah air yang sama.
Pidato ditutup dengan penegasan kecintaan terhadap Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gus Miftah mengajak seluruh masyarakat untuk bangga menjadi bangsa Indonesia, menjaga persatuan, dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan demi kejayaan bangsa.
INTI PESAN
Kita boleh berbeda agama dan keyakinan, tetapi kita memiliki rumah besar yang sama: Indonesia. Jangan memasuki dan mengganggu kamar keyakinan orang lain; mari kita bangun ruang tamu bersama, tempat seluruh anak bangsa bertemu, saling menghormati, dan bersama-sama menjaga NKRI.
Email tidak akan di publikasi. Field yang harus diisi ditandai dengan tanda *