LOGO SEKRETARIAT DAERAH
Beranda > Artikel > Risiko Dan Mitigasi Dampak Godzilla El Nino Dan Iod (Indian Ocean Dipole) …
Artikel

RISIKO DAN MITIGASI DAMPAK GODZILLA EL NINO DAN IOD (INDIAN OCEAN DIPOLE) POSITIF DI KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN 2026

Posting oleh setdalobar - 5 April 2026 - Dilihat 0 kali

RINGKASAN EKSEKUTIF:

BMKG dan BRIN merilis fenomena Godzilla El NiNo yang bersamaan dengan IOD positif pada tahun 2026 ditandai oleh anomali suhu muka laut yang lebih panas dari normal dan memicu musim kemarau yang datang lebih awal serta berlangsung lebih kering. Dampaknya diperkirakan terjadi sejak April hingga Oktober 2026, dengan fase awal mulai terasa pada April, kemudian menguat pada MeiJuni, dan mencapai puncaknya pada Agustus ketika sekitar 61,4% wilayah Indonesia mengalami kekeringan. Kondisi ini menunjukkan perubahan iklim ekstrem yang tidak hanya lebih intens dibanding El NiNo biasa, tetapi juga berdurasi panjang.

Dampak utama yang ditimbulkan bersifat multisektor, meliputi peningkatan risiko gagal panen di sektor pertanian, potensi krisis air bersih, meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti ISPA, dehidrasi, dan penyakit akibat sanitasi buruk. Dengan karakter tersebut, tingkat ancaman dikategorikan tinggi hingga sangat tinggi, karena memengaruhi ketahanan pangan, ketersediaan air, kesehatan, dan stabilitas ekonomi masyarakat secara bersamaan.

Meski demikian, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan, terutama pada sektor kelautan, seperti peningkatan produksi garam akibat intensitas panas tinggi, potensi kenaikan hasil perikanan tangkap serta bertambahnya penyinaran matahari menambah minat berwisata.

Oleh karena itu, diperlukan langkah mitigasi yang terarah, antara lain penghematan dan penguatan sumber air, penyesuaian pola tanam adaptif, kesiapsiagaan terhadap kebakaran lahan, serta intervensi kesehatan masyarakat, agar dampak negatif dapat ditekan sekaligus mengoptimalkan peluang ekonomi yang muncul.

 

I. LATAR BELAKANG

Fenomena El NiNo kuat (Godzilla El NiNo) yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif diprediksi mulai AprilOktober 2026 dan berdampak signifikan pada wilayah Selatan Indonesia termasuk NTB. 

Kombinasi ini menyebabkan:

  • Penurunan curah hujan signifikan: 61,4% Wilayah Indonesia (Agustus), Benchmark Bali El Nino 2015 curah hujan berkurang sebesar -46%.

  • Musim kemarau lebih panjang dan kering: 57,2% Wilayah Indonesia 

  • Risiko kekeringan ekstrem meningkat: 64,5 % Wilayah Indonesia

  • Kenaikan suhu sangat kuat: 1,5oC-3oC.

El Nino 2026 juga melanda Lombok barat dan menjadi ancaman strategis karena Lombok Barat yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pertanian dan perkebunan , air baku , lingkungan hidup.

Namun di sisi lain, Indian Ocean Dipole (IOD) positif  menjadi peluang pada sektor kelautan dan pariwisata.

 

II. IDENTIFIKASI RISIKO UTAMA

1. Risiko Pertanian dan Perkebunan

Dampak:

  • Penurunan produksi padi dan hortikultura: 20-40%

  • Potensi gagal panen akibat kekurangan air 

  • Peningkatan hama/penyakit tanaman 

  • Penurunan produktivitas lahan kering 

  • Benchmark Dampak El Nino 2015 (Laporan BNPB): Tercatat bahwa kekeringan telah melanda 16 provinsi, meliputi 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan di Indonesia. Pada musim kemarau ini di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara terjadi defisit air sekitar 20 miliar meter kubik. Hingga pertengahan Oktober 2015, hujan juga belum turun di semua wilayah Indonesia. Tampak bahwa hampir sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan sebagian Sumatera serta Kalimantan dalam 90 hari terakhir tidak terjadi hujan.

Analisis:
Kombinasi El NiNo + IOD positif terbukti menurunkan produksi pangan dan meningkatkan gagal panen di Indonesia. 

 

2. Risiko Kekeringan Air Bersih

Dampak:

  • Berkurangnya debit mata air dan sumur : 20-50%

  • Krisis air bersih di desa rawan 

  • Gangguan layanan PDAM

  • Mata Air Aik Nyet dan Bunut Ngengkag kering, pariwisata sepi. 

Analisis:
Curah hujan sangat rendah menyebabkan resapan air menurun dan sumber air mengering. 

 

3. Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Dampak:

  • Kebakaran lahan kering dan Semak: 

  • Kerusakan ekosistem 

  • Kabut asap lokal 

  • Dampak El Nino terhadap kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 adalah:                     2,61 juta hektar hutan dan lahan terbakar, 24 orang meninggal dunia (baik dampak langsung maupun tidak langsung), 600 ribu jiwa menderita ISPA, 2,61 juta hektar hutan dan lahan terbakar, kerugian ekonomi sekitar Rp 221 triliun (setara 1,9 % Produk Domestik Bruto Nasional), asap menyebar hingga Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina Selatan, hilangnya plasma nutfah, emisi karbon dan lainnya.

Analisis:
Kemarau panjang meningkatkan potensi karhutla di wilayah rawan. 

 

4. Risiko Kesehatan Masyarakat

Dampak:

  • ISPA akibat debu dan asap 

  • Penyakit akibat sanitasi buruk (diare, penyakit kulit) 

  • Heat stress/dehidrasi berat.

  • Benchmark 2015: 600 ribu jiwa menderita ISPA akibat karhutla.

Analisis:
Kekurangan air berdampak langsung pada sanitasi dan kesehatan masyarakat. 

 

III. ANALISIS RISIKO STRATEGIS 

Sektor

Tingkat Risiko

Dampak Utama

Pertanian

Sangat Tinggi

Gagal panen, inflasi pangan

Air Bersih

Sangat Tinggi

Krisis air desa

Lingkungan

Sangat Tinggi

Kebakaran lahan

Kesehatan

Tinggi

ISPA, Pnemounia

Sosial-Ekonomi

Tinggi

Penurunan pendapatan petani

 

IV. PELUANG STRATEGIS

Meski berisiko tinggi, fenomena ini juga membuka peluang:

1. Peningkatan Produksi Perikanan

Peluang:

  • Kondisi laut tertentu dapat meningkatkan produktivitas ikan pelagis

  • Potensi peningkatan tangkapan nelayan 

Strategi:

  • Optimalisasi armada tangkap 

  • Penguatan cold storage dan rantai distribusi 

 

2. Peningkatan Produksi Garam

Peluang:

  • Intensitas panas tinggi mempercepat evaporasi 

  • Produksi garam rakyat meningkat 

Strategi:

  • Revitalisasi tambak garam 

  • Teknologi geomembran 

  • Hilirisasi garam industry: penjualan garam ke 8.000 ASN. 

 

3. Peningkatan Kunjungan Wisatawan

Peluang:

  • Penyinaran matahari yang lama menambah minat wisata  

  • Cuaca cerah dan bersahabat

Strategi:

  • Ubah segmentasi dan target kunjungan wisatawan menjadi wisatawan Nusantara.

  • Buat Paket wisata menarik antar kabupaten (Senggigi-Mandalika-Sembalun).

 

V. STRATEGI MITIGASI RISIKO

A. Mitigasi Sektor Pertanian

  • Penyesuaian kalender tanam (percepatan/pengunduran) 

  • Diversifikasi tanaman tahan kering (jagung) 

  • Pompanisasi dan sumur dangkal 

  • Asuransi usaha tani (AUTP) 

  • Waduk komunal Kelompok Usaha Tani ( 100 m x 100 m x 3 m)

  • Penggunaan mulsa untuk menjaga kelembaban tanah

  • Sistem tumpangsari untuk mengurangi risiko gagal panen

  • Konservasi tanah dan air seperti guludan, rorak, dan penutup tanah

  • Agroforestri, tanaman pelindung tanaman pokok seperti pohon gamal.

  • Quick Win: 

  1. AWD (Alternate Wetting and Drying) adalah metode pengairan sawah yang dilakukan secara berkala; Penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) untuk menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi (Kementan 2026 dan IRRI/International Rice Research Institute)

  2. Irigasi tetes /Drip Irrigation; 

  3. Penampungan Air Hujan untuk pertanian dari terpal/plastic muls

B. Mitigasi Krisis Air Bersih

  • Distribusi air bersih (tangki) ke desa rawan 

  • Pembangunan embung, sumur bor 

  • Gerakan hemat air masyarakat 

  • Perlindungan mata air 

  • Quick Win: Penampungan air bersih sisa musin hujan April melalui talang rumah.

C. Mitigasi Kebakaran Lahan

  • Pembentukan Satgas Desa Siaga Karhutla 

  • Patroli rutin dan early warning system 

  • Larangan pembakaran lahan 

  • Kolaborasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan antara BPBD, Damkarmat, Polres dan Kodim.

D. Mitigasi Kesehatan

  • Kampanye PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) 

  • Penyediaan air sanitasi darurat 

  • Posko kesehatan musim kemarau 

  • Distribusi masker 

  • Quick Win: Filter Air Skala Rumah Tangga

E. Strategi Pemanfaatan Peluang

  • Intensifikasi perikanan tangkap & budidaya 

  • Program Garam Nasional Lombok Barat 

  • Dukungan permodalan nelayan dan petambak 

  • Quick Win: Revitalisasi PUGaR (Pengembangan Usaha Garam Rakyat) dan penggunaan teknologi geomembran, terutama di Dusun Empol, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong.

VI. REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK PEMDA LOMBOK BARAT

  1. Menetapkan Status Siaga Kekeringan 2026 sejak dini 

  2. Membentuk Tim Terpadu El NiNo (lintas OPD) 

  3. Refocusing anggaran untuk air bersih dan pertanian 

  4. Menyusun dashboard monitoring kekeringan real-time 

  5. Mengintegrasikan program dengan BMKG dan BRIN 

  6. Mengoptimalkan potensi ekonomi perikanan dan garam sebagai kompensasi sektor pertanian 

VII. PENUTUP

Fenomena Godzilla El NiNo + IOD positif merupakan ancaman serius bagi Lombok Barat, terutama pada sektor pertanian, air bersih, dan kesehatan. Namun, dengan mitigasi yang tepat dan pemanfaatan peluang pada sektor kelautan, dampak negatif dapat ditekan dan bahkan dikonversi menjadi keuntungan ekonomi daerah.

Demikian telaah strategis ini disampaikan untuk menjadi bahan pertimbangan dan arahan lebih lanjut.

Hormat kami,

A signature on a white background

AI-generated content may be incorrect.

 

(H. SUBARDI,SKM,M.KES.)

Pembina Utama Muda/IVc

NIP. 19741231 200003 1 021

 

 

Referensi:

  1. Instagram BRIN Indonesia: https://www.instagram.com/p/DWDOflBGNIX/?img_index=6
  2. https://www.bmkg.go.id/iklim/el-nino-la-nina
  3. https://eratani.co.id/en/blog/article/read/Mengenal-AWD-Metode-Irigasi-Padi-yang-Efisien-dan-Ramah-Lingkungan
  4. Instagram Media Indonesia https://www.instagram.com/p/DWl0ccxkSGQ/?img_index=3
  5. Policy Brief Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, KEMENTAN: Analisis Dampak El Nino Terhadap Produksi Tanaman Pangan