LOGO SEKRETARIAT DAERAH
Beranda > Artikel > Lombok Barat Bidik Insentif Fiskal Rp9 Miliar, Andalkan Inovasi Creative F…
Artikel

Lombok Barat Bidik Insentif Fiskal Rp9 Miliar, Andalkan Inovasi Creative Financing hingga Penurunan Pengangguran

Posting oleh setdalobar - 5 Juni 2026 - Dilihat 0 kali

Kebijakan rasionalisasi anggaran belanja negara memicu restrukturisasi total pada tata kelola pemerintahan di tingkat daerah. Menanggapi tantangan tersebut, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menginisiasi Alokasi Insentif Fiskal Nasional sebesar Rp1 Triliun melalui ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026. Program ini dirancang untuk menciptakan iklim kompetitif antar-pemerintah daerah guna mempercepat inovasi dan meningkatkan kinerja, di mana daerah berprestasi diberikan stimulus fiskal yang rigid berdasarkan peringkat pemenang, mulai dari Rp1 miliar hingga Rp3 miliar. Penghargaan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan hingga November 2026, di mana pada Tahap I (April dan Mei 2026) telah dikucurkan dana mencapai Rp232 Miliar untuk 92 daerah lintas empat regional. 

Dalam penilaian Tahap I tersebut, Kabupaten Lombok Barat berhasil menorehkan prestasi gemilang di panggung nasional dengan meraih predikat Terbaik I Kategori Creative Financing pada Regional Nusra Maluku, sekaligus mengamankan insentif fiskal sebesar Rp3 Miliar. Keberhasilan ini tidak membuat Lombok Barat berpuas diri. Menatap tahapan penilaian berikutnya, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat memasang target strategis untuk merebut minimal tiga kategori penghargaan sekaligus demi mengamankan total insentif fiskal sebesar Rp9 Miliar. Tiga kategori rasional yang dibidik mencakup Creative Financing (mempertahankan posisi), Pengendalian Inflasi, dan Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). 

Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Kemendagri 2026 Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting Tahap I

REGIONAL

TINGKAT

JUARA

PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENURUNAN STUNTING

SUMATERAKabupaten

1

Mesuji
  

2

Tapanuli Selatan
  

3

Bengkalis
 Kota

1

Sungai Penuh
  

2

Pekanbaru
  

3

Batam
 Provinsi

1

Kepulauan Riau
SULAWESIKabupaten

1

Sidrap 
  

2

Bolaang Mangondow Timur
  

3

Gowa
 Kota

1

Tomohon
  

2

Manado
  

3

Makassar
 Provinsi

1

Sulawesi Utara
NUSRA MALUKUKabupaten

1

Morotai
  

2

Halmahera Utara
  

3

Halmahera Tengah 
 Kota

1

Ternate  
 Provinsi

1

Maluku Utara 
KALIMANTANKabupaten

1

Tapin
  

2

Lamandau
  

3

Hulu Sungai Selatan
 Kota

1

Banjarbaru
  

2

Palangka Raya
 Provinsi

1

Kalimantan Selatan

 

Untuk mencapai target besar tersebut, Lombok Barat dihadapkan pada sejumlah tantangan makro yang memerlukan intervensi taktis dan replikasi dari daerah-daerah terbaik nasional. Pada sektor penanggulangan kemiskinan dan stunting, evaluasi nasional membuktikan adanya hubungan sebab-akibat yang absolut antara peningkatan daya beli masyarakat miskin dengan penurunan stunting. Berdasarkan analisis kuadran kinerja, Lombok Barat saat ini masih berada di kuadran tantangan ganda (kemiskinan makro 11,9% dan stunting SSGI 27,3%), meskipun angka kemiskinan ekstremnya berhasil ditekan ke angka 0,38% yang berada di bawah rata-rata nasional. Sebagai langkah taktis, Lombok Barat direkomendasikan mereplikasi keberhasilan Kabupaten Mesuji dalam mengandalkan kolaborasi pendanaan korporasi swasta lewat program Bapak Asuh, sembari mempertajam tiga inovasi klinis internal yang sudah berjalan, yaitu INSTING SUPER, PETIS BATER, dan CETING SENDU. 

Capaian Indikator Kemiskinan, Kemiskinan Ekstrim dan Stunting

DAERAH TERBAIK I

ANGKA NASIONAL 2025

CAPAIAN 

UPAYA STARTEGIS DAN INOVASI  

Kabupaten Mesuji (Lampung)

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Mesuji 6,31% Tahun 2024 menjadi 5,92% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 0,99% menjadi 0,88% Tahun 2025.

 

Prevalensi Stunting 11,1% menjadi 5% (EPPGBM)

Gerakan gotong royong "Bapak Asuh" yang disokong pendanaan korporasi sawit privat.

Pemanfaatan DATA SEN yang lebih akurat membantu penargetan bantuan sosial dan intervensi pemberdayaan menjadi lebih tepat sasaran. 

Kota Sungai Penuh (Jambi)

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Kota Sungai Penuh 2,92% Tahun 2024 menjadi 3,23% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 1,15% menjadi 0,53% Tahun 2025.

 

Prevalensi Stunting SSGI 8,0% Tahun 2024, menjadi 4,0% (EPPGBM) Tahun 2025

Gerakan 3S :Gerakan sosial masif yang  mewajibkan/ mengajak ASN dan warga menyisihkan (segenggam beras, sebutir telur, dan Rp1.000 setiap hari) untuk warga kurang mampu dan keluarga berisiko tinggi

Kabupaten Sidrap (Sulawesi Selatan)

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan SIDRAP 5,02% Tahun 2024 menjadi 3,23% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 1,57% menjadi 0,94% Tahun 2025.

 

 

 

Prevalensi Stunting SSGI 20,3% Tahun 2024 menjadi 6,05 % Tahun 2025 (EPPGBM)

Inovasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem SIDRAP: Konversi Zakat untuk Modal Usaha dan Program Bapak Asuh & CSR yang melibatkan para pengusaha lokal dan dermawan .

 

SIDRAP sukses memanfaatkan posisinya sebagai lumbung pangan hewani (telur dan beras) Sulawesi Selatan untuk menyuplai program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara mandiri di tingkat desa.

 

Terobosan Percepatan Penurunan Stunting SIDRAP: Satu Telur Setiap Hari, Intervensi Gizi dan Pangan Lokal dan Sahabat Stunting.

Tapin (Kalimantan Selatan)

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Tapin 3,32% Tahun 2024 menjadi 2,91% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 0,28% Tahun 2024 menjadi 0,17% Tahun 2025.

Prevalensi Stunting turun dari 13,2% Tahun 2024 menjadi 8% Tahun 2025.

Kunci keberhasilan Tapin bersandar pada ketepatan dan integrasi data lapangan (by name by address) sistem e-PPGBM

 

Inovasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Tapin: Program Usaha Ekonomi Produktif (UEP): Pemberian bantuan modal dan pembinaan usaha bagi warga desil terbawah agar mandiri secara ekonomi, 

 

Validasi Data E-TAPIN MESRA: Pembaruan data kemiskinan berbasis Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) agar intervensi lebih tepat sasaran.

Kota Tomohon (Sulawesi Utara): 

 

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Tomohon 5,38% Tahun 2024 menjadi 4,86% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 1,87% Tahun 2024 menjadi 1,42% Tahun 2025.

 

Prevalensi Stunting turun dari 10,8% Tahun 2024.

Kolaborasi dan Data yang tepat kunci penurunan kemiskinan Tomohon

 

 

Tomohon memimpin dengan angka stunting satu digit (8,5% pada 2026) melalui program inovatif intervensi gizi wajib bersumber dari gerakan "ASN Peduli Stunting".

Pulau Morotai 

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Pulau Morotai 5,11% Tahun 2024 menjadi 4,49% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 3,12% Tahun 2024 menjadi 2,31% Tahun 2025.

 

Prevalensi Stunting turun dari 17,7% Tahun 2024.

Sementara Morotai mengamankan status prevalensi stunting terendah se-Malut (10,5% pada 2026) dengan mengoptimalkan intervensi gizi mikro spesifik berbasis protein hasil laut lokal.

 

Kota Ternate (Maluku Utara):

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Ternate 3,14% Tahun 2024 menjadi 3,34% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 2,82% Tahun 2024 menjadi 2,33% Tahun 2025.

 

 

 

 

 

Prevalensi Stunting turun dari 16,6% Tahun 2024.

Intervensi Gizi dan Kesehatan Terpadu,  Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perbaikan Tata Kelola Data: Memperbarui dan memverifikasi data kelompok sasaran secara berkala melalui DTKS agar bantuan sosial tepat sasaran. 

 

Ternate meraih peringkat pertama aksi konvergensi tingkat provinsi tiga tahun berturut-turut hingga Mei 2026. 

 

Kota Banjarbaru (Kalimantan Selatan)

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Kemiskinan Banjarbaru 3,79% Tahun 2024 menjadi 3,44% Tahun 2025. Miskin Ekstrim turun dari 0,28% Tahun 2024 menjadi 0,17% Tahun 2025.

 

Prevalensi Stunting 15,4% Tahun 2024.

Keberhasilan ini didukung oleh program inklusi ekonomi perkotaan serta perluasan akses air bersih dan layanan dasar Masyarakat termasuk home care. Inovasi  Gratis Ongkir UMKM, Subsidi Bunga KUR, JULAK SAMAN (Banjarbaru Laksanakan Sanitasi dan Air Minum Aman),HOMEBIOGAS, Inovasi Si GALUH (Sistem Informasi Gasan Layanan Unggul dan Harmonis), Inovasi  

 

 

LAPAT OSD (Layanan Cepat Orang Tua/Disabilitas) Disdukcapil, serta Gerakan Orang Tua Asuh Stunting dan GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).

 

Posisi Lombok Barat

Miskin 8,25%

Miskin Ekstrim 0,85%

Stunting SSGI 19,8%

Miskin 12,65% Tahun 2024 menjadi 11,9% Tahun 2025. Miskin Ekstrim 0,68% menjadi 0,38% Tahun 2025

 

Stunting 2024 SSGI 27,3%; 9,58%( 5.848 jiwa) EPPGBM Tahun 2025

 

Perbaikan basis data yang valid dan terverifikasi, by name by address yang terintegrasi melalui perangkat khusus dan diverifikasi langsung di lapangan.

 

INSTING SUPER (Intervensi Stunting Melalui Pemberian Susu Pertumbuhan), yang merupakan intervensi terpadu bagi balita stunting melalui skrining kesehatan oleh dokter spesialis anak, pemberian susu Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK), pengobatan penyakit penyerta, serta pendampingan intensif oleh tenaga kesehatan dan kader.

PETIS BATER (Pelayanan Statis Balita Terintegrasi) dan CETING SENDU (Cegah Stunting dengan Semangat Terpadu) untuk memperkuat layanan kesehatan dan pendampingan keluarga berisiko stunting. 

 

Sementara itu, pada kategori Creative Financing yang menjadi keunggulan daerah, Lombok Barat dinilai sukses menerapkan paradigma Entrepreneur Government atau kecakapan dalam memfungsikan diri sebagai akselerator ekonomi melalui optimalisasi pendapatan non-APBD. Meskipun porsi PAD terhadap Pendapatan Daerah baru menyentuh 23,64%, tata kelola kekayaan daerah yang dipisahkan di Lombok Barat terbukti sangat agresif, di mana kontribusi dividen BUMD mampu menyumbang hingga 4,21%, jauh di atas rata-rata daerah peraih penghargaan lainnya. Untuk mempertahankan peringkat ini, pemerintah daerah didorong mempercepat pengesahan Perda Perseroda BPR NTB Lombok Barat serta melakukan optimalisasi aset mangkrak seperti eks-LCC dan lahan Pemda seluas 145 Hektar. 

Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Kemendagri 2026 Bidang Creative Financing Tahap I 

REGIONALTINGKATJUARACREATIVE FINANCING
SUMATERAKabupaten

1

Bintan
  

2

Lampung Selatan
  

3

Batu Bara
 Kota

1

Bandar Lampung
  

2

Medan
  

3

Palembang
 Provinsi

1

Sumatera Utara
SULAWESIKabupaten

1

Wajo
  

2

Kolaka
  

3

Mamasa
 Kota

1

Makassar
  

2

Palu
  

3

Manado
 Provinsi

1

Sulawesi Selatan
  

2

Sulawesi Tenggara
NUSRA MALUKUKabupaten

1

Lombok Barat
  

2

Lombok Timur
  

3

Halmahera Selatan
 Kota

1

Mataram
 Provinsi

1

NTB
KALIMANTANKabupaten

1

Kotabaru
  

2

Hulu Sungai Selatan
  

3

Kotawaringin Barat
 Kota

1

Samarinda
  

2

Palangka Raya
 Provinsi

1

Kalimantan Barat

 

Tabel Share PAD Terhadap Pendapatan Daerah dan  Dividen BUMD Terhadap PAD dan Tahun 2025

DAERAH

Pendapatan Daerah

(Rp.M)

PAD

(Rp.M)

Dividen BUMD

(Rp.M)

% PAD THD PD

% DIVEIDEN THD PAD

MAKASSAR

4.603,07

1.957,30

24,22

42,52

1,24

SAMARINDA

4.953,47

1.097,75

20,75

22,16

1,89

BANDAR LAMPUNG

2.624,33

984,83

6,80

37,53

0,69

MATARAM

1.982,48

670,88

13,61

33,84

2,03

LOBAR

2.303,75

544,62

22,93

23,64

4,21

KOTA BARU

3.226,13

392,92

16,03

12,18

4,08

BINTAN

1.242,79

360,38

9,40

29,00

2,61

WAJO

1.569,07

244,04

20,18

15,55

8,27

Ket: Dividen BUMD= Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Sumber: https://djpk.kemenkeu.go.id/portal/data/apbd?periode=5&tahun=2026&provinsi=16&pemda=06

Di sisi pengendalian inflasi, Lombok Barat saat ini berada di posisi Waspada Potensial (Kuadran IV) dengan tingkat inflasi 3,21% dan volatilitas harga yang relatif rendah sebesar 1,64%. Guna menstabilkan harga pangan pokok musiman, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diarahkan untuk meniru Kota Samarinda dan Sigi dalam hal pelembagaan High Level Meeting berkala, optimalisasi Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk intervensi pasar, serta memperluas Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah surplus komoditas seperti Lombok Timur. 

Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Kemendagri 2026 Bidang Pengendalian Inflasi

REGIONAL

TINGKAT

JUARA

PENGENDALIAN INFLASI

SUMATERAKabupaten

1

Tebo
  

2

Musi Rawas Utara
  

3

Labuhanbatu Utara
 Kota

1

Langsa
  

2

Prabumulih
  

3

Bukittinggi
 Provinsi

1

Bengkulu
SULAWESIKabupaten

1

Sigi
  

2

Polewali Mandar
  

3

Takalar
 Kota

1

Bitung
  

2

Palopo
  

3

Palu
 Provinsi

1

Gorontalo
  

2

Sulawesi Tengah
NUSRA MALUKUKabupaten

1

Sumba Timur
  

2

Bima 
  

3

Maluku Tenggara
 Kota

1

Tual
 Provinsi

1

NTT
KALIMANTANKabupaten

1

Sukamara
  

2

Gunung Mas
  

3

Pulang Pisau
 Kota

1

Samarinda
  

2

Banjarmasin
 Provinsi

1

Kalimantan Barat

 

Terakhir, pada sektor ketenagakerjaan, Lombok Barat menghadapi tantangan kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 2,82% yang dipicu oleh dampak mekanisasi alat pertanian. Menghadapi masalah ini, daerah disarankan mereplikasi inovasi Green Tourism Job Creation dari Kota Pagar Alam dengan mengalihkan tenaga kerja terdampak ke subsektor pariwisata berkelanjutan di destinasi unggulan seperti Senggigi, Sekotong, dan Narmada. Selain itu, replikasi program Smart Farming dari Kota Tidore Kepulauan juga relevan untuk mentransformasi pemuda tani ke dalam ekosistem agribisnis modern berbasis teknologi digital hortikultura guna menyuplai kebutuhan pasar regional. 

Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Kemendagri 2026 Tahap I Bidang Pengendalian Inflasi Penurunan Tingkat Pengangguran 

REGIONAL

TINGKAT

JUARA

PENURUNAN TINGKAT PENGANGGURAN

SUMATERAKabupaten

1

Solok Selatan
  

2

Mentawai
  

3

Dairi
 Kota

1

Pagar Alam
  

2

Tanjung Balai
  

3

Dumai
 Provinsi

1

Bengkulu
SULAWESIKabupaten

1

Kolaka
  

2

Konawe Kepulauan
  

3

Kolaka Utara
 Kota

1

Bau-Bau
  

2

Kendari
  

3

Pare-Pare
 Provinsi

1

Sulawesi Barat
NUSRA MALUKUKabupaten

1

Lembata
  

2

Alor
  

3

Sikka 
 Kota

1

Tidore Kepulauan
 Provinsi

1

Maluku Utara 
    
KALIMANTANKabupaten

1

Barito Utara
  

2

Tabalong
  

3

Murung Raya
 Kota

1

Bontang
  

2

Palangka Raya
 Provinsi

1

Kalimantan Utara

 

Komparasi Data TPT dan Desain Inovasi Sektoral (20242026)

NO

KABUPATEN/

KOTA

TPT 2024

TPT 2025

TPT 2026

INOVASI 

KUNCI KEBIJAKAN

SEKTOR UTAMA PENYERAPAN

1

PAGAR ALAM2,98%2,10%1,65%Green Tourism Job CreationPariwisata, Ekonomi Kreatif, Homestay

2

LEMBATA3,42%2,89%2,15%Entrepreneur Hub & Inkubasi MaritimPengolahan Hasil Laut, Perikanan

3

SOLOK SELATAN3,85%3,12%2,48%Padat Karya Nagari Berbasis KomoditasLogistik, Pertanian Sawit & Kopi

4

TIDORE KEPULAUAN4,12%3,51%2,90%Aksi Milenial Bertani (Smart Farming)Hortikultura, Agribisnis Modern

5

BARITO UTARA4,68%3,95%3,20%Regulasi Kuota Lokasi 70% & CSR VokasiPertambangan, Perkebunan Besar

6

KOLAKA5,11%4,30%3,62%Rantai Pasok Inklusi Vendor LokalIndustri Hilirisasi Nikel, Jasa Penunjang

7

BAU-BAU5,92%4,98%4,10%Digital Nomad Hub & Akses Wi-Fi PublikRemote Worker, Industri Kreatif Pesisir

8

BONTANG7,41%6,22%5,18%Job Fair Online & Certified WeldingIndustri Petrokimia, Konstruksi Alat Berat

 

Melalui komitmen Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati, Perangkat Daerah, DPRD, dan stakeholders terkait, seluruh ikhtiar transformasi hulu-hilir ini diharapkan berjalan optimal, dengan catatan Kementerian Dalam Negeri juga harus menjalankan proses penilaian secara objektif, transparan, dan bebas dari formalitas pergiliran pemenang semata.